Home Berita dan Artikel Artikel Medical Check Up, Bukan Angin Lalu

Medical Check Up, Bukan Angin Lalu

 

PROKAL.CO, Ibarat mesin, tubuh perlu diperiksa secara rutin. Tidak merasa sakit bukan berarti sehat.

MEDICAL check-up (MCU) atau pemeriksaan kesehatan menjadi jawaban status kesehatan seseorang. Tapi sayang, karena kurangnya pemahaman, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya MCU juga masih minim.

Apa sebenarnya MCU? Koordinator MCU RSUD AW Sjahranie (AWS) Samarinda dr Lanny Setiawati menerangkan, MCU ialah serangkaian pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara menyeluruh.

Itu bertujuan mengetahui kondisi kesehatan secara dini. Lebih cepat tahu, tentu bisa lebih baik. “Selain diagnosis (penyakit), pengobatan yang tepat bisa mencegah penyakit berlanjut,” ujar Lanny ditemui di Ruang MCU, RSUD AW Sjahranie Samarinda.

Diakui, tak semua yang melakukan MCU sengaja untuk memeriksakan kesehatan. Ada pula yang “terpaksa” lantaran tuntutan pekerjaan. Menjadi syarat diterima pekerjaan atau kewajiban untuk menduduki suatu jabatan.

Tak ditampik, dokter berkacamata ini bahwa tak semua yang melakukan pemeriksaan, melakukan tindak lanjut terhadap penyakit yang terdeteksi. “Yang patuh hanya 10 persen. Sisanya, saran MCU jadi angin lalu,” katanya.

Setiap hasil MCU, pihaknya selalu memberikan kesimpulan pemeriksaan beserta anjuran pengobatan. Tiap itu pula mengingatkan kepada pasien. Persoalan patuh atau tidak itu kembali kepada pribadi masing-masing.

Dia menceritakan salah satu contoh kasus. Ada pasien selepas MCU meninggal karena sakit paru. Instansi tempat bekerja mempertanyakan hal tersebut kepada pihaknya. Ditelusuri lebih jauh, rupanya pasien tersebut tak mengindahkan hasil pemeriksaan. Saran berobat tidak dilaksanakan. “Jadi jangan MCU yang disalahkan,” ucap dia.

Mengenai banyaknya orang takut melakukan MCU, dia memberikan pemahaman. Terang dia, ini persoalan pola pikir. Mestinya dijauhkan pikiran tersebut. Justru lebih baik mengetahui sekarang. 

Penanganan lebih ringan dan tak perlu berlarut-larut. Dengan begitu, tak perlu merogoh kocek besar untuk pengobatan. “Usir medical phobia. Cegah sakit sebelum terjadi. Jadikan MCU sebagai gaya hidup,” imbuh drg Irma C Halim, humas RSUD AWS.

Kembali ke Lanny. Sejauh ini, kata dia, memang permintaan sosialisasi banyak datang dari instansi pemerintah dan perusahaan. Untuk masyarakat belum, kecuali seminar tertentu. Ini menjadi tanggung jawab para pemangku kepentingan di bidang kesehatan. Di level terendah, bisa melalui puskesmas menyampaikan pentingnya MCU.

Keengganan masyarakat memeriksakan diri juga karena biaya MCU yang tidak terjangkau semua kalangan masyarakat. “Bisa jadi,” tuturnya.

Di AWS, Lanny menerangkan, ada empat paket pemeriksaan. Tiap paket, tentu berbeda jumlah organ tubuh yang diperiksa. Berbeda pula, biaya pemeriksaan. Biaya termurah, yakni Paket A untuk pria senilai Rp 421 ribu dan perempuan Rp 696 ribu. (lihat grafis)

Diketahui, biaya periksa itu terdiri atas komponen jasa dokter, bahan habis pakai, alat, dan pemasukan rumah sakit. Sangat dianjurkan, bagi orang normal memeriksakan diri enam bulan sekali. Bila memiliki riwayat penyakit semisal diabetes mellitus, malah sebulan sekali.  “Setiap RS punya paket MCU masing-masing,” sebut dia.

Yang membedakan MCU di AWS dengan RS lain di Kaltim, terang Lanny, yakni semua pemeriksaan ditangani dokter spesialis. Ruang pemeriksaan juga terlokasi di satu tempat. Dengan begitu, pasien tak perlu ke sana kemari.

Pun begitu, makan pagi atau siang disiapkan RS. “Enggak perlu makan ke luar RS,” ucapnya. Bagi yang hendak memeriksakan diri dianjurkan sehari sebelum MCU agar berpuasa sejak pukul 22.00 Wita. Pelayanan MCU sudah buka pukul 07.30 Wita.

BIAYA MAHAL

Tim riset Kaltim Post juga menurunkan survei tentang sejauh mana pengetahuan masyarakat terhadap MCU. Sebanyak 101 responden yang berasal dari Samarinda dan Balikpapan dijadikan sampel. Kriteria usia minimal 18 tahun. Teknik pengambilan sampel, stratified random sampling dengan taraf kepercayaan 90 persen dan margin of error ± 8 persen.

Hasilnya, 87 persen menjawab tahu. Dari situ, 70 persen di antaranya sudah pernah melakukan MCU. Menelisik lebih jauh, dari persentase tersebut yang melaksanakan secara berkala hanya sebesar 48 persen. “Terbanyak karena deteksi dini gejala penyakit,” ucap Erizal Respatti, koordinator Tim riset Kaltim Post.

Itu pun, responden mengaku melakukan setahun sekali dengan jumlah 57 persen. Disusul, enam bulan sekali sebesar 37 persen. Alasan responden tidak melakukan secara berkala karena biaya MCU yang mahal. Pilihan itu mendapat jawaban terbanyak sebesar 39 persen. Diikuti jawaban hanya melakukan jika merasakan gejala sakit dengan 30 persen. “Jadi, kalau tidak ada keluhan, berarti sehat. Tidak juga melakukan MCU,” katanya. (ril/far/k8)

sumber;http://kaltim.prokal.co/read/news/279887-medical-check-up-bukan-angin-lalu/1


 

 

 
Kalender Agenda
previous month August 2018 next month
M T W T F S S
week 31 1 2 3 4 5
week 32 6 7 8 9 10 11 12
week 33 13 14 15 16 17 18 19
week 34 20 21 22 23 24 25 26
week 35 27 28 29 30 31
buy viagra online | viagra price | viagra side effects | information viagra | buy viagra | buy viagra pills | buy generic viagra | viagra for sale | order viagra online | is viagra safe for women | free viagra sample | viagra natural | female viagra | viagra 6 free samples | USA viagra | Viagra uk | viagra purchase | dosage viagra | discount viagra | viagra cheap | non prescription viagra